MetroNews

Skandal 16 Siswa Titipan di SMPN 4 Makassar Terbongkar, Siapa Aktor di Baliknya?

×

Skandal 16 Siswa Titipan di SMPN 4 Makassar Terbongkar, Siapa Aktor di Baliknya?

Sebarkan artikel ini
Skandal 16 Siswa Titipan di SMPN 4 Makassar Terbongkar, Siapa Aktor di Baliknya?
SMP Negeri 4 Makassar (Ist)

Rapormerah.com – Gelombang polemik mengguncang dunia pendidikan Kota Makassar usai muncul dugaan adanya 16 siswa titipan yang hendak dipindahkan antar sekolah negeri.

Isu ini menyeruak ke publik usai pernyataan operator SMP Negeri 4 Makassar berinisial F beredar luas dan memantik tanda tanya besar, ada apa di balik perpindahan belasan siswa tersebut?

Informasi yang dihimpun menyebutkan, sebanyak 16 siswa disebut-sebut akan dipindahkan dari SMP Negeri 22 Makassar ke SMP Negeri 4 Makassar. Namun, pihak SMPN 4 menolak menerima mereka dengan alasan kelengkapan administrasi belum terpenuhi.

Manajemen SMPN 4 Makassar menyatakan, para siswa tersebut tidak dilengkapi rapor nasional (online) serta fakta integritas dari sekolah asal. Operator SMPN 4, F, juga menegaskan bahwa pihaknya tidak bisa menerima siswa pindahan tanpa dokumen resmi yang lengkap.

Tak hanya itu, berdasarkan data Dapodik, ke-16 siswa tersebut disebut tercatat bukan di SMPN 4, melainkan di SMP 11 Makassar.

Fakta ini semakin memperkeruh suasana dan memunculkan dugaan adanya praktik siswa “gantung” atau titipan.

Koordinator Divisi Pengawasan dan Monitoring LSM PERAK Indonesia, Heri Gonggong, menyayangkan polemik ini mencuat ke ruang publik.

Heri menilai dugaan adanya siswa titipan merupakan persoalan serius yang menyangkut prinsip keadilan dan transparansi dalam sistem penerimaan siswa di sekolah negeri.

“Jika benar ada praktik siswa gantung atau titipan, maka ini adalah bentuk pelanggaran terhadap asas objektivitas dan transparansi dalam penerimaan peserta didik. Siapa pun yang terlibat harus bertanggung jawab,” ujar Heri dalam keterangannya, Minggu (15/2/2026).

Menurutnya, praktik semacam itu berpotensi merugikan siswa lain yang menempuh jalur resmi.

Heri pun mempertanyakan siapa pihak yang diduga menitipkan siswa hingga persoalan daya tampung sekolah menjadi polemik.

“Publik berhak mengetahui siapa oknum yang tidak tahu malu menitipkan siswa. Apakah berasal dari internal Dinas Pendidikan, DPRD, pihak sekolah, atau oknum yang mengatasnamakan Pemerintah Kota Makassar. Ini harus dibuka secara terang benderang,” tegasnya.

LSM PERAK Indonesia mendesak Aparat Penegak Hukum (APH) dan Inspektorat Kota Makassar untuk melakukan penelusuran serta audit menyeluruh, tidak hanya di SMP Negeri 22 Makassar tetapi juga di sekolah lain yang diduga mengalami praktik serupa.

Heri juga mengkritik langkah pihak SMPN 4 Makassar yang dinilai kurang bijak dalam menyampaikan persoalan internal ke ruang publik tanpa mekanisme klarifikasi yang tepat, terutama terkait polemik rapor dan fakta integritas.

Ia mendesak Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, serta Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, Achi Soleman, untuk mengambil langkah tegas.

“Kami mendesak Wali Kota Makassar untuk mengevaluasi dan mencopot pihak-pihak yang terlibat, termasuk operator SMP Negeri 4 Makassar dan kepala sekolahnya jika terbukti lalai dan tidak profesional dalam menyikapi persoalan ini,” ujarnya.

Lebih jauh, Heri menduga praktik titipan ini bukan sekadar kasus tunggal. Ia mengingatkan agar persoalan tersebut tidak dianggap sepele.

“Jangan sampai ini hanya puncak gunung es. Kami menduga praktik seperti ini bisa saja terjadi di sekolah negeri lainnya. Karena itu perlu audit menyeluruh agar kepercayaan masyarakat terhadap sistem pendidikan tetap terjaga,” pungkasnya.

Sementara itu, pernyataan bernada kontroversial juga sempat mencuat dari pihak SMPN 4 Makassar. Dalam pemberitaan sejumlah media online, disebutkan adanya ungkapan yang dinilai tidak etis.

“Itu ibu Kepsek SMP 22, dia makan dagingnya, kami di SMP 4 dikasih tulang. Kami dikirimkan sampah,” ketus F yang tayang di beberapa media online.

Namun, pernyataan tersebut dibantah oleh salah satu orang tua siswa. Ia menyebut rapor siswa sebenarnya ada, hanya persoalan fakta integritas yang menurutnya merupakan ranah kebijakan internal antar sekolah dan seharusnya dikomunikasikan secara tertutup, bukan diumbar ke publik.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Dinas Pendidikan Kota Makassar terkait dugaan 16 siswa titipan tersebut.

Polemik pun masih menyisakan satu pertanyaan besar, siapa sebenarnya yang bermain di balik perpindahan belasan siswa ini?

 

Editor : Raden