Rapormerah.com – Fenomena kemunculan rongga bara menganga di lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Palangkaraya, Kalimantan Tengah, memicu keprihatinan publik.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengonfirmasi bahwa pendaran api di bawah permukaan tanah tersebut merupakan karakter khas karhutla di lahan gambut.
Video singkat yang merekam pijar api merah dari dalam tanah itu mendadak viral di media sosial.
Di lokasi kejadian, petugas satgas darat terus berjibaku menyiramkan air untuk memadamkan bara tersembunyi yang terus menjalar.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Suar Pelita Panjaitan, menjelaskan bahwa fenomena tersebut dikenal sebagai ground fire atau api bawah permukaan.
“Fenomena lubang api bawah tanah pada kebakaran lahan gambut di Kalimantan merupakan bentuk ground fire atau api bawah permukaan,” ujar Berton kepada wartawan, Kamis (15/10/2026).
Berton membeberkan, karakteristik lahan gambut yang terbentuk dari material organik tebal dan kaya gas metana menjadi pemicu utama.
Kondisi ini membuat area permukaan tampak sudah padam, padahal bara api di lapisan bawah masih aktif menyala.
“Saat lapisan organik di dalam tanah habis terbakar, struktur tanah di atasnya melesak dan membentuk rongga atau lubang yang mengeluarkan asap serta pijar api,” jelasnya.
Ancaman ground fire ini kian kompleks karena pergerakannya yang tak kasat mata di bawah permukaan.
Sensor satelit pemantau hotspot konvensional kerap kesulitan mendeteksi titik api model ini secara presisi.
“Sifatnya yang tersembunyi dan minim radiasi panas tinggi di permukaan membuat api bawah tanah ini sulit terdeteksi oleh citra satelit pemantau hotspot biasa,” tambah Berton.
Guna menaklukkan api tersembunyi tersebut, penanganan ekstra dilakukan melalui metode pembasahan total (ground soaking).
Petugas mengandalkan teknik penyuntikan air (water injection) menggunakan pipa bertekanan tinggi langsung menembus kedalaman tanah gambut.
Penanganan darat ini turut diperkuat melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang mengandalkan kolaborasi BNPB bersama BMKG dan TNI untuk memicu hujan buatan di wilayah terisolasi.
Langkah teknis lain seperti pembuatan sumur bor serta penutupan sekat kanal juga terus dikebut. Upaya ini difokuskan menjaga tinggi muka air tanah agar lahan gambut tetap dalam kondisi lembap.
Di sisi lain, BNPB mengimbau warga untuk tidak mendekati area bekas kebakaran karena potensi bahaya fisik yang mengintai.
“Membatasi akses masyarakat ke lokasi terdampak jadi penting karena struktur tanah yang tersisa sangat rapuh dan rawan ambles, sehingga berisiko membuat warga terperosok ke dalam rongga bara panas,” pungkas Berton.
Editor : Raden













