Rapormerah.com – Para pengendara di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, harus berjuang keras mengantri berjam-jam hingga bermalam di SPBU Bungadidi, Kecamatan Tanah Lili, demi mendapatkan tetesan solar bersubsidi, Jumat (21/8/2026).
Di saat yang sama, para mafia solar justru tengah asyik “berpesta” di atas penderitaan rakyat.
Di balik antrean panjang itu, tersingkap borok busuk praktik lancung.
Operator keparat diduga berkolaborasi secara rapi dengan jaringan pelangsir dan armada modifikasi berkedok mobil tangki resing untuk menguras habis kuota BBM.
Tim jurnalis media rapormerah.com jaringan zonafaktualnews.com langsung mendatangi kantor SPBU Bungadidi pada Jumat sore untuk melakukan konfirmasi.
Sayangnya, manajemen inti kabur meninggalkan lokasi dan hanya menyisakan staf administrasi serta bagian ritel.
Upaya konfirmasi beralih ke kediaman pengawas SPBU Bungadidi, Subehing.
Tanpa rasa bersalah, Subehing secara terbuka mengakui adanya rekayasa kelompok pelangsir yang dibentuk untuk memuluskan distribusi gelap tersebut.
“Jadi tawaran itu kami terima dan perhitungkan demi kelancaran penyaluran BBM, serta memudahkan kendaraan umum atau pengguna langsung untuk dapat BBM solar,” kilah Subehing saat ditemui di kediamannya.
Subehing tak menampik adanya pendataan puluhan nama dalam kelompok pelangsir, lengkap dengan surat rekomendasi fiktif. Masing-masing diklaim mengantongi jatah empat jeriken per orang.
Sebaliknya, pengakuan manis sang pengawas seketika runtuh di hadapan kesaksian mentah seorang warga yang berada di dalam lingkaran kelompok tersebut.
Warga tersebut membongkar praktik sunat kuota yang lancang dan terstruktur, yang diduga kuat menjadi bancakan oknum tertentu, Minggu (23/8/2026).
“Awalnya kesepakatan enam jerken per orang, lalu keluar satu jerken jadi kami dapat lima. Tapi itu hanya berjalan berapa hari saja, lalu berubah menjadi empat jerken karena dipotong dua jerken,” beber warga yang meminta identitasnya disembunyikan.
“Dua jerken itu entah untuk siapa, itu urusan ketua katanya, dan kami terima saja yang penting kebagian. Yang tidak punya kendaraan dan rekomendasi hanya dikasih tiga jerken, jadi ditarik tiga jerken dari pembagian awal,” ketusnya penuh amarah.
Warga tersebut bahkan melempar dugaan telak bahwa potongan jatah itu mengalir deras ke kantong-kantong pihak berkuasa, termasuk desas-desus jatah untuk aparat penegak hukum dan oknum dewan.
Perampokan hak rakyat ini mustahil berjalan mulus tanpa persengkongkolan busuk operator di mesin nozel.
Peran operator terbukti krusial dalam meloloskan pengisian berulang menggunakan trik barcode.
Di tengah penderitaan warga, operator bernama Irma justru kerap bersikap arogan dan diskriminatif saat melayani warga maupun mobil pelansir.
Menanggapi skandal penjarahan terstruktur ini, tokoh masyarakat setempat, Hariono Wardi, mengamuk dan mendesak aparat penegak hukum segera bertindak tegas.
Hariono menuntut polisi menyita rekaman CCTV dan menyeret operator yang bertugas.
Kalkulasi lapangannya sangat telak. Suplai harian solar di SPBU Bungadidi mencapai 8 ton.
Dengan asumsi 33 orang pelangsir menyedot kuota jeriken masif, volume harian yang dirampok sindikat menyentuh angka 6,5 ton, membuat masyarakat umum disia-siakan.
“Aparat harus memeriksa operator yang bertugas saat itu untuk mencari kebenaran informasi ini, sekaligus meminta rekaman CCTV guna memantau apakah BBM subsidi sudah tersalur dengan baik atau justru habis ke oknum penguntab,” tegas Hariono tanpa kompromi.
Editor : Raden













