Rapormerah.com – Kematian seorang tahanan bernama Muh Taufik (29), narapidana kasus ITE di Rutan Kelas IIB Sidrap, Sulawesi Selatan, menimbulkan tanda tanya besar dari pihak keluarga.
Keluarga menduga korban tidak meninggal karena bunuh diri seperti yang dijelaskan pihak rutan, melainkan akibat kekerasan.
Kecurigaan keluarga muncul setelah melihat langsung kondisi jenazah korban yang disebut penuh luka dan lebam di beberapa bagian tubuh.
Pihak keluarga menilai kondisi tersebut tidak sesuai dengan ciri-ciri orang yang meninggal karena gantung diri.
Paman korban, Safaruddin Dg Nompo, mengatakan pihak rutan menyebut Taufik meninggal karena bunuh diri. Namun informasi berbeda justru diterima keluarga dari rekan korban di dalam rutan.
“Petugas rutan bilang bunuh diri, tapi informasi dari temannya dia dipukul, sudah dua hari dipukul. Jadi kami sangat meragukan informasi yang berbeda ini,” ujarnya kepada wartawan, Senin (23/3/2026).
Menurut Safaruddin, kejanggalan mulai terlihat saat jenazah tiba di rumah duka di Tanru Tedong, Sidrap. Ia mengaku sangat terpukul melihat kondisi tubuh keponakannya yang penuh luka.
“Sangat memprihatinkan. Banyak luka di badannya. Di lehernya seperti bekas tali dijerat dari belakang. Bibir pecah, lebam di lengan kanan kiri sampai ke belakang, seperti habis dipukul,” ungkapnya.
Safaruddin juga meragukan penjelasan bahwa korban gantung diri menggunakan sarung. Menurutnya, bekas jeratan di leher korban lebih menyerupai bekas tali, bukan kain sarung.
“Katanya gantung diri pakai sarung, tapi itu bukan bekas sarung, itu tali,” tegasnya.
Keluarga juga menyoroti proses penanganan jenazah yang dinilai janggal karena tidak dilakukan visum. Istri korban disebut diminta langsung membawa pulang jenazah dari rumah sakit.
“Jenazah diambil di rumah sakit, tidak ada visum. Istrinya kan tidak tahu apa-apa, langsung disuruh bawa pulang. Meninggal baru dikabari,” katanya.
Selain itu, hingga saat ini pihak keluarga mengaku belum didatangi pihak rutan untuk memberikan penjelasan resmi terkait kematian Taufik.
Safaruddin juga menilai alasan bunuh diri tidak masuk akal. Pasalnya, beberapa hari sebelum meninggal, korban masih sempat melakukan panggilan video dengan ibunya dan menyampaikan bahwa dirinya dalam kondisi baik.
“Tidak mungkin bunuh diri. Apalagi hukumannya sudah mau putus, sudah dijalani satu tahun lebih. Dia sempat bilang ke mamanya, sehat-sehat saja,” tuturnya.
Atas kejadian tersebut, keluarga mendesak pihak kepolisian untuk mengusut tuntas penyebab kematian Taufik. Mereka mengaku siap melapor ke Polres Sidrap demi mendapatkan keadilan.
Sementara itu, Kepala Rutan Kelas IIB Sidrap, Perimansyah, membantah adanya penganiayaan terhadap korban.
Perimansyah menegaskan luka yang terlihat di tubuh korban merupakan bekas ikatan tali saat korban diduga melakukan upaya bunuh diri.
“Bekas ikatan tali kalau difoto. Di leher bekas tali itu saya dapat foto waktu mau dikafani,” ujarnya.
Perimansyah juga mengaku telah menerima laporan dari tim medis rumah sakit yang menyebut korban meninggal setelah diduga mencoba bunuh diri.
“Laporan dari tim medis sama dokter,” singkatnya.
Editor : Raden













