Rapormerah.com – Pengamat politik Rocky Gerung melontarkan kritik tajam terhadap negara menyusul tragedi meninggalnya seorang siswa sekolah dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diduga bunuh diri karena tak mampu membeli buku tulis dan pena seharga Rp10 ribu.
Korban diketahui berinisial YBS (10), siswa kelas IV SD yang nekat mengakhiri hidupnya lantaran kondisi ekonomi keluarga yang serba kekurangan. Orang tua YBS disebut tidak mampu membelikan perlengkapan sekolah yang dibutuhkan anaknya.
Peristiwa pilu tersebut disinggung Rocky Gerung saat mengisi kuliah umum di Universitas Gadjah Mada (UGM) bertajuk Masa Depan Demokrasi: Polisi, Militer, Gerakan Sosial.
Rocky menilai tragedi ini sebagai bukti kegagalan negara dalam menjalankan nilai-nilai republikanisme.
Di awal sesi kuliah, Rocky mengaku tersentak setelah membaca kabar tentang anak berusia 10 tahun yang memilih mengakhiri hidupnya demi tidak membebani sang ibu.
“Saya tadi baca berita di NTT, anak umur 10 tahun memilih bunuh diri, saya pakai kata memilih, untuk menyelamatkan hidup ibunya. Dia minta dibelikan buku, ibunya bilang tidak punya uang, lalu dia memilih bunuh diri. Itu satu tindakan republikanisme,” kata Rocky, dikutip dari kanal YouTube Department of Politics and Government UGM, Kamis (5/2/2026).
Rocky kemudian menyinggung keseriusan negara dalam menangani kemiskinan ekstrem. Menurutnya, sikap negara justru bertolak belakang dengan kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang disebut rela menggelontorkan dana hingga Rp17 triliun untuk mendukung Board of Peace besutan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Menurut Rocky, tindakan YBS tidak bisa dilepaskan dari kondisi struktural yang memaksa rakyat kecil berada dalam situasi tanpa pilihan, akibat abainya negara.
“Anak 10 tahun bisa memilih bunuh diri dan menulis surat kepada ibunya: ‘Ibu, saya pergi dulu, ibu tidak perlu bersedih.’ Harga buku itu berapa? Rp10 ribu. Sepuluh ribu itu berapa per mil dari Rp17 triliun yang disumbangkan Prabowo kepada Donald Trump,” sindirnya.
Rocky juga mempertanyakan kepekaan Presiden Prabowo serta etos kerja republik dalam melindungi rakyat kecil. Ia bahkan menyebut keputusan YBS sebagai tindakan yang rasional, meski harus dibayar dengan nyawa.
“Apakah Prabowo punya etos republikanisme, atau justru anak 10 tahun yang memilih secara rasional untuk bunuh diri itu yang bertindak sangat dewasa, walaupun secara psikologis tentu perlu kita periksa,” ucapnya.
Lebih jauh, Rocky menilai tragedi YBS menjadi sinyal kuat bahwa ada yang tidak beres dalam pengelolaan republik.
“Dia memilih pergi tanpa ragu. Dia putuskan hidup saya harus saya hentikan supaya hidup ibu saya berlanjut, supaya hidup lima adiknya berlanjut, supaya hidup kecamatan itu berlanjut, supaya hidup kabupaten di NTT berlanjut. Supaya publik mengerti bahwa ada yang enggak beres dengan urusan republik,” tegas Rocky.
Diketahui, YBS ditemukan tewas di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT, dengan meninggalkan secarik kertas berisi pesan untuk keluarganya.
Dari hasil penelusuran, YBS diduga mengakhiri hidup karena tidak ingin membebani ibunya yang tak mampu membelikan buku tulis dan pulpen.
Tragedi ini pun menyita perhatian publik dan menuai kecaman luas. Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menyebut kejadian tersebut sebagai alarm keras bagi pemerintah, khususnya dalam sektor pendidikan.
“Tragedi ini bukan sekadar kabar duka, melainkan alarm keras bagi negara dan masyarakat. Peristiwa ini sangat menyayat hati dan tidak bisa diterima di negara mana pun,” ujar Hetifah dalam konfirmasinya, Rabu, 4 Februari 2026.
Ia menegaskan bahwa pendidikan anak merupakan tanggung jawab negara yang wajib dipenuhi dan dilindungi.
“Anak usia 10 tahun seharusnya dilindungi dan dibantu, bukan sampai merasa putus asa hanya karena buku dan pena,” tegasnya.
Menurut Hetifah, kasus ini menunjukkan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendidikan, perlindungan sosial, serta kepedulian lingkungan sekitar.
“Pendidikan dasar harus benar-benar gratis dan inklusif, tanpa membebani anak dari keluarga miskin,” katanya.
Ia juga menekankan perlunya jaminan perlengkapan belajar bagi siswa sekolah dasar agar tragedi serupa tidak terulang.
“Perlindungan sosial harus aktif dan tepat sasaran bagi keluarga rentan, tanpa menunggu tragedi terjadi,” pungkasnya.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya membangun kepedulian sosial di sekolah, keluarga, dan masyarakat.
“Setiap anak yang kesulitan harus segera dibantu, agar tidak pernah merasa sendirian menghadapi kemiskinan,” tutupnya.
Editor : Raden













