Rapormerah.com- Bertepatan Hari Jumat ini, di peringati Hari Pramuka ke-65 yaitu 14 Agustus 2026, peringatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk menguji kembali relevansi Gerakan Pramuka di tengah perubahan zaman.
Sejak diperkenalkan secara resmi kepada masyarakat pada 14 Agustus 1961, Pramuka hadir sebagai gerakan pendidikan nonformal yang membentuk watak, kecakapan, kepemimpinan, dan pengabdian generasi muda.
Pada usia 65 tahun, tantangannya bukan lagi sekadar mempertahankan tradisi, tetapi memastikan nilai-nilai kepramukaan mampu menjawab kebutuhan bangsa hari ini.
Tema yang diangkat tahun ini Memantapkan Langkah organisasi Memantapkan Langkah Organisasi Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045. Dengan subtema yang saya pilih terkait Berkreasi, Berinovasi, Terampil dan Mandiri untuk Mendukung Swasembada Pangan. sangat tepat ditempatkan dalam konteks generasi digital native.
Generasi ini tumbuh bersama internet, telepon pintar, kecerdasan artifisial, media sosial, dan arus informasi yang sangat cepat. Namun, lahir di tengah teknologi tidak otomatis membuat seseorang memiliki literasi digital, daya juang, kecakapan hidup, atau kepedulian sosial.
Banyak anak muda terampil menggunakan aplikasi, tetapi belum tentu mampu mengubah teknologi menjadi solusi bagi lingkungan sekitarnya.
Di sinilah Pramuka menemukan medan baktinya yang baru. Pramuka tidak boleh dipersempit menjadi kegiatan baris-berbaris, perkemahan, tali-temali, dan upacara. Semua kegiatan tersebut tetap penting sebagai metode pendidikan, tetapi tujuannya harus berkembang.
Kecakapan membuat simpul, misalnya, mengajarkan ketelitian dan fungsi; penjelajahan melatih pengambilan keputusan; perkemahan membentuk kemandirian; kerja beregu menanamkan kolaborasi; sedangkan bakti masyarakat menumbuhkan kepedulian. Esensi inilah yang harus diterjemahkan ke dalam tantangan kontemporer, termasuk pangan, lingkungan, dan teknologi.
Swasembada pangan bukan hanya urusan petani atau pemerintah. Ia merupakan persoalan kedaulatan, keberlanjutan, distribusi, inovasi, perubahan iklim, dan regenerasi pelaku pertanian. Modernisasi pertanian membutuhkan teknologi digital, riset, kreativitas, dan keterlibatan generasi muda. Karena itu, Pramuka perguruan tinggi harus menjadi penghubung antara pengetahuan kampus dan kebutuhan masyarakat.
Racana dan gugus depan di perguruan tinggi dapat menjadikan desa binaan, lahan kampus, atau lingkungan perkotaan sebagai laboratorium pengabdian. Pemerintah juga menempatkan perguruan tinggi dan generasi muda sebagai unsur strategis dalam melahirkan inovasi pertanian dan memperkuat swasembada pangan.
Program kepramukaan dapat diarahkan pada kebun pangan kampus, hidroponik sederhana, budidaya tanaman lokal, pengolahan kompos, pengurangan sampah makanan, pemetaan lahan, hingga edukasi konsumsi pangan beragam.
Mahasiswa bidang teknologi dapat membuat sensor kelembapan tanah atau sistem pencatatan hasil panen.
Mahasiswa ekonomi dapat membantu pemasaran dan pembukuan kelompok tani. Mahasiswa pendidikan dapat menyusun materi literasi pangan untuk sekolah.
Mahasiswa komunikasi dapat memproduksi kampanye digital yang menghargai petani dan mendorong konsumsi produk lokal. Kolaborasi lintas disiplin seperti inilah yang membuat Pramuka benar-benar berkreasi dan berinovasi.
Setiap Racana seharusnya memiliki sedikitnya satu proyek pangan yang terukur, bermitra dengan masyarakat, terdokumentasi secara digital, serta dapat dilanjutkan oleh kepengurusan berikutnya.
Dengan demikian, kegiatan tidak berhenti sebagai agenda sesaat, tetapi tumbuh menjadi model pengabdian yang konsisten, dapat dievaluasi, dan direplikasi.
Akan tetapi, inovasi Pramuka tidak boleh berhenti pada lomba gagasan, unggahan media sosial, atau prototipe yang hanya dipamerkan. Inovasi harus diuji, dipakai, diperbaiki, dan memberi manfaat. Prinsip belajar sambil melakukan dalam kegiatan kepramukaan sangat sesuai dengan kebutuhan generasi digital native yaitu generasi pramuka harus bergerak cepat, mencoba hal baru, menerima umpan balik, lalu beradaptasi.
Kecepatan penting, tetapi harus berlandaskan oleh Dasa Darma Pramuka. Teknologi tanpa tanggung jawab dapat melahirkan manipulasi data, informasi palsu, eksploitasi, dan ketimpangan. Karena itu, anggota Pramuka harus cepat merespons masalah, tetapi tetap cermat, jujur, disiplin, dan berpihak pada kepentingan masyarakat.
Pramuka harus membentuk generasi yang bukan hanya mahir menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki kompas moral dalam menggunakannya.
Kemandirian juga tidak berarti bekerja sendirian. Dalam kepramukaan, mandiri berarti mampu mengambil inisiatif, mengelola sumber daya, menyelesaikan masalah, dan bertanggung jawab atas keputusan, sambil tetap membangun gotong royong.
Swasembada pangan hanya mungkin dicapai melalui kerja bersama antara petani, kampus, pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan generasi muda. Pramuka dapat menjadi ruang perjumpaan yang menyatukan unsur-unsur tersebut melalui proyek nyata dan berkelanjutan.
Bagi para pembina, tantangannya adalah mengubah pola latihan. Pembina tidak cukup menjadi pemberi instruksi, tetapi harus menjadi fasilitator yang membuka ruang eksperimen. Peserta didik perlu diberi masalah nyata, kesempatan merancang solusi, kebebasan mencoba, dan tanggung jawab mengevaluasi hasilnya.
Tanda kecakapan tidak semestinya hanya membuktikan bahwa anggota mengetahui sesuatu, tetapi bahwa ia mampu menerapkannya untuk membantu orang lain.
Pada usia ke-65, Pramuka harus tampil sebagai gerakan yang berakar kuat sekaligus bergerak cepat. Setangan leher, api unggun, dan perkemahan tetap menjadi identitas, tetapi dampaknya harus hadir di kebun, desa, kampus, ruang digital, dan meja makan masyarakat.
Generasi digital native tidak membutuhkan Pramuka yang hanya bernostalgia. Mereka membutuhkan Pramuka yang menantang, relevan, terbuka terhadap teknologi, dan konsisten membentuk karakter.
Inilah saatnya membuktikan bahwa Praja Muda Karana benar-benar berarti orang muda yang suka berkarya.
Dengan kreativitas, inovasi, keterampilan, kemandirian, dan pengabdian, Pramuka dapat melahirkan generasi yang bukan hanya cepat mengikuti perubahan, tetapi juga mampu mengarahkan perubahan untuk memperkuat swasembada pangan dan kedaulatan bangsa. (*)
Oleh: Muh Ilham Bakhtiar, S.Pd.M.Pd (Narasumber Ahli Racana UNM dan Anggota Mabigus Universitas Negeri Makassar)













