NewsOpini

Belajar Sejarah Dunia, Membangun Identitas dan Kehormatan Bangsa

×

Belajar Sejarah Dunia, Membangun Identitas dan Kehormatan Bangsa

Sebarkan artikel ini
Sejarah Dunia, Jati Diri, Bangsa Anglo-Saxon, Kehormatan Bangsa,
Novita Sari Yahya

Mempelajari sejarah bangsa-bangsa di dunia bukan sekadar mengenalv masa lalu, tetapi juga memahami identitas, jati diri, serta proses lahirnya sebuah peradaban.

Sejarah memberikan pelajaran tentang bagaimana suatu bangsa mencapai kejayaan, menghadapi tantangan, dan membangun masa depannya.

Dari sejarah pula, kita belajar bahwa kemajuan suatu bangsa lahir dari ilmu pengetahuan, organisasi yang kuat, kepemimpinan yang visioner, persatuan, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan.

Bangsa Anglo-Saxon dan Viking merupakan dua contoh peradaban besar yang memberikan pengaruh penting dalam sejarah dunia.

Bangsa Anglo-Saxon meletakkan dasar perkembangan hukum, pemerintahan, dan bahasa Inggris, sedangkan bangsa Viking dikenal sebagai pelaut, penjelajah, pedagang, dan pembangun jaringan perdagangan yang luas.

Keberhasilan mereka tidak hanya bertumpu pada kekuatan militer, tetapi juga pada kemampuan membangun sistem sosial, hukum, budaya, dan organisasi yang kokoh.

Indonesia pun memiliki warisan sejarah yang tidak kalah membanggakan. Kerajaan Sriwijaya berkembang sebagai kekuatan maritim sekaligus pusat pembelajaran agama Buddha di Asia Tenggara.

Sementara itu, Majapahit membangun jaringan politik, diplomasi, dan perdagangan yang menjangkau sebagian besar kawasan Nusantara.

Sejarah juga menunjukkan bahwa kemunduran kerajaan-kerajaan besar dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti konflik internal, perebutan kekuasaan, perubahan jalur perdagangan, serta melemahnya persatuan politik.

Keberhasilan VOC dan kemudian pemerintah kolonial Belanda menguasai sebagian besar Nusantara selama berabad-abad tidak hanya disebabkan oleh jumlah penduduknya, melainkan oleh keunggulan organisasi, teknologi pelayaran, kekuatan ekonomi, birokrasi, serta strategi politik, termasuk memanfaatkan persaingan antarkerajaan melalui politik divide et impera (politik pecah belah).

Pengalaman sejarah ini mengajarkan bahwa bangsa yang terpecah akan lebih mudah dikuasai oleh kekuatan luar.

Dalam konteks tersebut, Sumpah Palapa yang diikrarkan Mahapatih Gajah Mada memiliki makna historis yang sangat penting. Sumpah tersebut merupakan simbol tekad untuk membangun persatuan politik di Nusantara.

Dalam perjalanan bangsa Indonesia modern, semangat Sumpah Palapa sering dipandang sebagai inspirasi bagi lahirnya kesadaran nasional dan pentingnya persatuan dalam menjaga kedaulatan negara.

Apabila Indonesia ingin menjadi bangsa yang semakin maju, bermartabat, dan dihormati di dunia, maka langkah pertama adalah membangun kualitas sumber daya manusianya.

Membaca, menulis, mempelajari sejarah, mengembangkan ilmu pengetahuan, melahirkan gagasan, serta menghasilkan karya merupakan investasi peradaban yang jauh lebih bernilai daripada sekadar mengejar popularitas sesaat.

Bangsa yang besar bukan dibangun oleh masyarakat yang mengabaikan ilmu pengetahuan atau merendahkan martabat dirinya sendiri, melainkan oleh warga negara yang berkarakter, berbudaya, disiplin, berpikir kritis, serta memiliki tangggung jawab terhadap masa depan bangsanya.

Sejarah bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan cermin untuk memahami masa kini dan kompas untuk menata masa depan Indonesia yang lebih terhormat.

Penulis : Novita Sari Yahya

Daftar Referensi

Boxer, C. R. (1965). The Dutch Seaborne Empire 1600–1800. Hutchinson.

Brandes, J. L. A. (1897). Pararaton (Ken Arok) of het Boek der Koningen van Tumapel en van Majapahit. Albrecht & Co.

Brink, S., & Price, N. (Eds.). (2008). The Viking World. Routledge.

Coedès, G. (1968). The Indianized States of Southeast Asia. University of Hawai’i Press.

Ricklefs, M. C. (2008). A History of Modern Indonesia Since c. 1200 (4th ed.). Palgrave Macmillan.

Soekmono, R. (1973). Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Kanisius.

Stenton, F. M. (1971). Anglo-Saxon England (3rd ed.). Oxford University Press.