Rapormerah.com – Di tengah kompleksitas persoalan kebangsaan yang terus mengemuka, sikap apatis mahasiswa terhadap realitas sosial, politik, dan demokrasi menjadi persoalan serius yang patut mendapatkan perhatian kolektif.
Fenomena ini tidak hanya mengindikasikan melemahnya kepekaan sosial generasi intelektual, tetapi juga menjadi ancaman terhadap keberlanjutan tradisi kritis dan perjuangan mahasiswa sebagai kekuatan moral bangsa.
Menanggapi kondisi tersebut, Kabid Pendidikan Tinggi dan Kebudayaan (PTK) PB IPMIL RAYA, Andi Muh. Fausan Aziman, menyerukan kepada seluruh jajaran mahasiswa untuk kembali merefleksikan marwah dan tanggung jawab historisnya sebagai bagian dari kekuatan intelektual yang memiliki peran strategis dalam mengawal perjalanan bangsa.
Menurutnya, mahasiswa tidak boleh terjebak dalam rutinitas akademik yang hanya berorientasi pada pencapaian individual, sementara berbagai persoalan fundamental bangsa berlangsung tanpa keterlibatan dan respons kritis dari kalangan intelektual muda.
“Mahasiswa tidak boleh kehilangan kepekaan terhadap realitas yang terjadi di tengah masyarakat. Ketika ketidakadilan dinormalisasi, demokrasi dipertaruhkan, dan kepentingan rakyat terabaikan, maka diam bukanlah pilihan yang dapat dibenarkan secara moral. Kita harus kembali menyadari bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab historis untuk menjaga nalar kritis dan memperjuangkan nilai-nilai keadilan,” ujar Andi Muh. Fausan Aziman dalam keterangannya, Jumat (6/11/2026).
Ia menekankan bahwa kebangkitan gerakan mahasiswa tidak semata-mata diukur melalui mobilisasi massa maupun demonstrasi, tetapi juga melalui konsistensi gerakan intelektual, keberanian menyampaikan kritik, serta keterlibatan aktif dalam mengadvokasi persoalan-persoalan masyarakat.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa marwah mahasiswa tidak boleh direduksi menjadi simbol romantisme sejarah.
Idealisme dan semangat perjuangan harus diwujudkan dalam tindakan konkret, terorganisasi, dan berorientasi pada kepentingan publik.
Gerakan mahasiswa harus mampu menjadi ruang artikulasi aspirasi rakyat sekaligus instrumen kontrol sosial terhadap berbagai kebijakan yang menyimpang dari prinsip keadilan dan kesejahteraan.
“Jangan sampai mahasiswa hanya mewarisi nama besar perjuangan masa lalu, tetapi kehilangan keberanian untuk menjawab tantangan zaman. Marwah mahasiswa tidak terletak pada gelar, atribut, maupun romantisme pergerakan, melainkan pada keberanian berpikir, keteguhan bersikap, dan konsistensi dalam memperjuangkan kepentingan rakyat,” lanjutnya.
Dalam konteks tersebut, PB IPMIL RAYA diharapkan mampu menjadi ruang konsolidasi intelektual dan organisatoris bagi mahasiswa untuk memperkuat kesadaran kritis, membangun solidaritas, serta menghidupkan kembali semangat perjuangan yang berlandaskan nilai-nilai demokrasi, keadilan sosial, dan kemanusiaan.
Ia juga mengajak seluruh jajaran untuk tidak membiarkan apatisme berkembang menjadi budaya yang melemahkan daya kritis mahasiswa.
Sebaliknya, kondisi bangsa hari ini harus menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran kolektif dan mengembalikan gerakan mahasiswa pada fungsi substantifnya sebagai agen perubahan dan kekuatan moral.
“Bangsa ini tidak membutuhkan mahasiswa yang sekadar hadir di ruang akademik, tetapi mahasiswa yang mampu membaca realitas, memahami ketidakadilan, dan mengambil posisi secara bertanggung jawab. Jika hari ini kita memilih untuk abai, maka jangan heran apabila esok hari kita kehilangan legitimasi moral untuk berbicara atas nama perubahan,” sambungnya.
Ia juga berkeyakinan, bahwa kader-kader IPMIL RAYA tidak mungkin terkontaminasi oleh kecenderungan abai.
“IPMIL RAYA adalah tempat dimana kami tumbuh dengan doktrin yang kuat, sampai saat ini pun saya masih percaya ; bahwa di atas hukum hanya ada sara dan kedaulatan daerah. Setidaknya itu yang kami pelajari di sini (IPMIL RAYA), maka setidaknya saya berkeyakinan, bahwa tiap-tiap dari mereka yang terpatri doktrin serupa dalam benaknya, akan merasa malu ketika berdiam diri ditengah kisruh yang menggerus kemakmuran daerahnya. NKRI pada umumnya, Luwu Raya pada khususnya. Jika mahasiswa hari ini memilih abai, namun tidak demikian dengan IPMIL Raya,” tutupnya.
Seruan tersebut menjadi pengingat bahwa mahasiswa bukan sekadar bagian dari sejarah perjuangan bangsa, melainkan aktor yang turut menentukan arah masa depan NKRI.
Kebangkitan gerakan mahasiswa bukan lagi sekadar pilihan organisatoris, melainkan panggilan intelektual dan tanggung jawab kebangsaan yang harus dijawab melalui kesadaran, keberanian, dan tindakan nyata.
Tentunya pernyataan ini juga menjadi isyarat, bahwa akan ada gerakan dengan skala besar-besaran yang akan dilakukan oleh mahasiswa, khususnya jajaran IPMIL RAYA di kampus se-Kota Makassar.
(RL/ID)













