Rapormerah.com – Krisis nuklir global semakin nyata saat Amerika Serikat (AS) dan Rusia belum mencapai kesepakatan baru terkait Perjanjian New START, yang dijadwalkan berakhir pada 5 Februari 2026.
Dengan negosiasi terhenti dan ketegangan geopolitik yang memanas, dunia kini menghadapi risiko konflik nuklir yang sebelumnya sulit dibayangkan.
Presiden Rusia Vladimir Putin sebelumnya menawarkan perpanjangan perjanjian selama satu tahun, yang membatasi jumlah hulu ledak nuklir aktif masing-masing negara maksimal 1.550 unit.
Sementara itu, pihak AS hingga kini belum memberikan jawaban resmi, membuat proses diplomasi tersendat di tengah tekanan internasional dan perang di Ukraina.
Para pakar keamanan memperingatkan bahwa menerima tawaran Rusia tanpa pengawasan ketat bisa memberi celah bagi Moskow untuk mengembangkan senjata canggih di luar batas perjanjian, termasuk rudal jelajah Burevestnik dan torpedo nuklir Poseidon.
Mantan perencana pertahanan AS, Greg Weaver, menekankan bahwa langkah tergesa-gesa juga berpotensi mengirim sinyal lemah kepada China, yang tengah meningkatkan kapasitas nuklirnya secara signifikan.
Menurut Federasi Ilmuwan Amerika (FAS), saat ini AS dan Rusia menguasai hampir 87 persen seluruh hulu ledak nuklir dunia.
Rusia diperkirakan memiliki sekitar 5.459 hulu ledak, sedangkan AS menyusul dengan 5.177 unit.
Sementara itu, China diperkirakan memiliki sekitar 600 hulu ledak, namun jumlah ini diproyeksikan melonjak lebih dari 1.000 unit pada 2030, memicu perhatian global.
Mantan negosiator nuklir Rusia, Nikolai Sokov, menilai pembentukan perjanjian nuklir multilateral baru saat ini nyaris mustahil.
Rusia bahkan menuntut agar senjata nuklir negara-negara NATO lain, seperti Inggris dan Prancis, ikut diperhitungkan dalam perundingan, meski tuntutan tersebut ditolak keras oleh kedua negara.
Sokov menegaskan bahwa saat ini fokus dunia seharusnya adalah mengurangi risiko perang nuklir akibat kecelakaan atau kesalahan perhitungan, karena hanya AS dan Rusia yang memiliki jalur komunikasi darurat 24 jam untuk krisis nuklir.
Negara-negara Eropa lainnya, termasuk markas besar NATO, belum memiliki mekanisme komunikasi langsung dengan Moskow, meningkatkan kemungkinan salah paham yang berbahaya.
“Prioritas utama sekarang bukan sekadar negosiasi perjanjian baru, tetapi membangun kepercayaan dan memperkecil risiko bencana nuklir,” ujar Sokov.
Sokov menambahkan bahwa dunia berada pada titik rapuh, di mana kesalahan kecil saja bisa berakibat fatal.
Dengan kondisi ini, dunia tidak hanya menunggu berakhirnya New START, tetapi juga menghadapi kenyataan pahit: risiko eskalasi nuklir yang semakin dekat dan tak bisa diabaikan.
Editor : Raden













