Metro

GEMBIRA hingga Bunda Pustaka, Jejak Inovasi SDN Borong Sampai ke Rujab Wali Kota Makassar

×

GEMBIRA hingga Bunda Pustaka, Jejak Inovasi SDN Borong Sampai ke Rujab Wali Kota Makassar

Sebarkan artikel ini
Kepala UPTD SPF SD Negeri Borong, Andi Etty Cahyani, menyerahkan buku “Bunda Pustaka” kepada Bunda Literasi Kota Makassar, Hj. Melinda Aksa, dalam audiensi di Rumah Jabatan Wali Kota Makassar, Rabu (23/9/2026).
Kepala UPTD SPF SD Negeri Borong, Andi Etty Cahyani, menyerahkan buku “Bunda Pustaka” kepada Bunda Literasi Kota Makassar, Hj. Melinda Aksa, dalam audiensi di Rumah Jabatan Wali Kota Makassar, Rabu (23/9/2026).

Rapormerah.com, MAKASSAR — Beragam inovasi literasi SD Negeri Borong Makassar dibawa dalam audiensi di Rumah Jabatan Wali Kota Makassar bersama Bunda Literasi Kota Makassar, Hj. Melinda Aksa, Rabu, 23 September 2026.

Kepala UPTD SPF SD Negeri Borong, Andi Etty Cahyani, S.Pd., M.Pd., hadir bersama Kepala Perpustakaan, Ketua Bunda Pustaka, guru dan perwakilan Bunda Pustaka. Dalam audiensi tersebut, rombongan memaparkan berbagai praktik literasi yang telah dikembangkan di sekolah, sekaligus berbagi pengalaman mengenai program yang melibatkan siswa, guru, orang tua, dan berbagai unsur masyarakat.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, Achi Soleman, S.STP., M.Si., yang saat itu berada di Rumah Jabatan Wali Kota Makassar, turut hadir dan mengikuti rangkaian pertemuan tersebut.

GEMBIRA, Lima Aktivitas dalam Satu Gerakan Literasi

Dalam perbincangan awal bersama Hj. Melinda Aksa, Andi Etty memperkenalkan salah satu inovasi literasi yang dikembangkan SD Negeri Borong, yakni program GEMBIRA, akronim dari Gerakan Membaca, Bercerita, Menulis, Kriya, dan Kreasi.

Program GEMBIRA mengintegrasikan lima aktivitas utama dalam satu rangkaian kegiatan literasi. Siswa tidak hanya diarahkan untuk membaca buku, tetapi juga memahami isi bacaan, menceritakan kembali, menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan, mengolah inspirasi dari buku menjadi karya kriya, serta mengembangkan kreativitas melalui berbagai bentuk ekspresi.

“GEMBIRA bukan hanya mengajak anak membaca. Setelah membaca, anak juga belajar memahami isi buku, menceritakan kembali, menulis, kemudian mengembangkan gagasan dari bacaan menjadi karya dan bentuk kreativitas lainnya,” jelas Andi Etty Cahyani.

Melalui program tersebut, hasil dari proses membaca dapat dikembangkan menjadi berbagai bentuk karya, seperti pertunjukan, gelar karya, hingga penerbitan buku.

“Kami ingin anak-anak tidak berhenti pada kegiatan membaca. Mereka juga perlu diberi ruang untuk bercerita, menulis, berkarya, dan mengembangkan kreativitas dari apa yang mereka baca,” ujar Andi Etty.

Di hadapan Bunda Literasi Kota Makassar, Andi Etty kemudian memaparkan perjalanan berbagai inovasi literasi lainnya, baik yang saat ini berjalan di SD Negeri Borong maupun program yang pernah dikembangkannya ketika menjabat sebagai Kepala Sekolah definitif di SDN Parinring.

Gerbang Ilmu dan Kebiasaan Membaca

Salah satu bagian dari perjalanan literasi SD Negeri Borong adalah keberadaan perpustakaan “Gerbang Ilmu”.

Perpustakaan tersebut pernah mengikuti lomba perpustakaan tingkat provinsi dan meraih juara III. Saat itu, Andi Etty masih berstatus sebagai guru di SD Negeri Borong, sebelum kemudian menjadi Kepala Sekolah definitif di SDN Parinring.

Budaya literasi di SD Negeri Borong terus dikembangkan melalui kebiasaan membaca selama 15 menit sebelum pembelajaran dimulai pada pukul 07.30. Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan salat Duha bersama. Setiap kelas juga memiliki jadwal kunjungan rutin ke perpustakaan.

“Kami ingin membaca tidak hanya menjadi kegiatan ketika anak berada di perpustakaan, tetapi menjadi kebiasaan yang tumbuh dalam keseharian mereka,” kata Andi Etty.

Selain mengembangkan budaya membaca, SD Negeri Borong juga mendapat pendampingan program Sekolah Ramah Anak dari Kartika Aningrum, antara lain melalui kegiatan paired readingreading aloudshared reading, dan independent reading.

Sekolah juga telah lama membangun kolaborasi dengan para pegiat literasi, salah satunya Rusdin Tompo sejak 2017.

“Kami sudah lama berkolaborasi dengan pegiat literasi, salah satunya Rusdin Tompo sejak 2017. Kami juga menghadirkan motivator dari TNI dan Polri untuk memberikan inspirasi kepada anak-anak agar semakin tertarik membaca,” ujar Andi Etty.

Salah satu motivator literasi yang dihadirkan sekolah adalah Danramil 1422-01/Lau Kodim 1422/Maros, Mayor Inf. Dr. Khaedir Makkasau.

BACA JUGA :  Maulid Nabi di SD Negeri Borong Makassar Angkat Tema Karakter dan Moderasi Beragama

Dari Gerbang Ilmu hingga Inovasi Pembelajaran Luar Ruang

Dalam pemaparannya, Andi Etty juga menceritakan sejumlah inovasi yang pernah dikembangkannya ketika bertugas di SDN Parinring.

Salah satunya adalah Peluru atau Pembelajaran Luar Ruang, sebuah inovasi yang ditujukan untuk membantu siswa, khususnya kelas 4, 5, dan 6, yang belum lancar membaca bahkan belum mengenal huruf.

Program tersebut bukan program yang sedang berjalan di SD Negeri Borong, melainkan inovasi yang dikembangkan Andi Etty ketika menjadi Kepala Sekolah definitif di SDN Parinring.

“Peluru itu kami kembangkan ketika saya menjadi Kepala Sekolah definitif di SDN Parinring. Anak-anak kelas 4, 5, dan 6 yang belum lancar membaca kami dampingi secara rutin tiga kali dalam sepekan,” jelas Andi Etty.

Kegiatan tersebut dilakukan dengan memanfaatkan ruang terbuka dan lingkungan di bawah pepohonan. Pelaksanaannya melibatkan guru yang tidak sedang mengajar, Babinsa, serta orang tua siswa.

Program tersebut salah satunya menghasilkan perubahan pada seorang siswa kelas 6 yang pada awalnya belum mampu membaca. Melalui pendampingan rutin, siswa tersebut akhirnya dapat membaca dengan lancar hingga menyelesaikan pendidikan dasar dan melanjutkan ke jenjang SMP.

“Ada anak kelas 6 yang awalnya belum bisa membaca. Setelah mengikuti pendampingan secara rutin, akhirnya dia bisa membaca dengan lancar sampai menyelesaikan sekolah dan melanjutkan ke SMP,” tutur Andi Etty.

Andi Etty juga menceritakan program Insan (Infaq Sedekah) yang dikembangkannya ketika menjadi PLT di SDN Parinring. Melalui kegiatan tersebut, siswa dibiasakan melakukan infaq dan sedekah yang kemudian dimanfaatkan untuk kegiatan sosial, termasuk kunjungan ke panti asuhan.

BACA JUGA :  Begini Tampang “Palukka” yang Bereaksi di SD Borong, Inpres Baraya 1 hingga Al-Fityan

Sementara di SD Negeri Borong, penguatan ekosistem sekolah juga dilakukan melalui program Ecoschool, yang berfokus pada pengelolaan sampah dan kegiatan daur ulang.

Bunda Pustaka Berawal dari Orang Tua yang Menunggu Anak

Salah satu inovasi yang turut diperkenalkan dalam audiensi adalah Bunda Pustaka, sebuah gerakan yang melibatkan orang tua dalam kegiatan sekolah dan literasi.

Ketua Bunda Pustaka SD Negeri Borong, Annisya Arsyad, yang juga merupakan orang tua siswa sekaligus tenaga administrasi sekolah, menjelaskan bahwa Bunda Pustaka berawal dari kebiasaan orang tua yang menunggu anak pulang sekolah.

“Bunda Pustaka awalnya berangkat dari orang tua yang sedang menunggu anak. Daripada hanya menunggu, kami mengajak mereka memanfaatkan waktu di perpustakaan untuk berdiskusi, membaca, dan membuat berbagai kerajinan dari bahan daur ulang,” jelas Annisya.

Para orang tua kemudian memanfaatkan waktu tersebut dengan berbagai kegiatan di perpustakaan. Hasil kerajinan dari bahan daur ulang selanjutnya digunakan untuk menghias ruang kelas dan perpustakaan.

Annisya Arsyad dipercaya memimpin Bunda Pustaka untuk masa kepengurusan dua tahun. Ia berharap keberadaan Bunda Pustaka tidak hanya dikenal di lingkungan SD Negeri Borong, tetapi juga dapat berkembang dan berkolaborasi dengan sekolah-sekolah lain.

“Kami berharap Bunda Pustaka tidak hanya dikenal di SD Negeri Borong. Ke depan, kami ingin bisa berkolaborasi dengan sekolah-sekolah lain sehingga manfaatnya bisa lebih luas,” ujarnya.

Bersama Andi Etty Cahyani dan Rusdin Tompo, Bunda Pustaka didorong untuk membangun kolaborasi lintas sekolah. Kehadirannya diharapkan dapat mendukung kegiatan sekolah, membantu meringankan tugas guru, sekaligus memperkuat hubungan antara orang tua dan anak serta hubungan antarsesama orang tua.

Inovasi Bunda Pustaka tersebut juga telah memiliki sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) yang diterbitkan pada 2023.

Dalam kesempatan tersebut, Annisya juga memperlihatkan dan menyerahkan contoh fisik buku Bunda Pustaka sebagai kenang-kenangan kepada pihak yang hadir dalam kegiatan.

Setelah pemaparan dan dialog mengenai pengembangan gerakan literasi, rangkaian audiensi dilanjutkan dengan penyerahan buku “Bunda Pustaka” oleh Andi Etty Cahyani, S.Pd., M.Pd. kepada Bunda Literasi Kota Makassar, Hj. Melinda Aksa, serta Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, Achi Soleman, S.STP., M.Si.

Penyerahan tersebut menjadi bagian dari pengenalan karya sekaligus dokumentasi inovasi yang lahir dari keterlibatan orang tua dalam gerakan literasi di SD Negeri Borong.

Bunda Literasi Makassar: Inovasi Sekolah Menjadi Bagian Gerakan Kota

Bunda Literasi Kota Makassar, Hj. Melinda Aksa, menyampaikan bahwa berbagai inovasi yang tumbuh di sekolah, seperti Bunda Pustaka, Bunda Macca, Surgaku, dan berbagai bentuk gerakan literasi lainnya, dapat menjadi bagian dari gerakan literasi Kota Makassar.

“Inovasi-inovasi literasi yang sudah tumbuh di sekolah perlu kita lihat dan kita petakan. Dengan begitu, kita bisa mengetahui program apa saja yang sudah berjalan dan bagaimana inovasi tersebut dapat saling terhubung menjadi bagian dari gerakan literasi Kota Makassar,” kata Hj. Melinda Aksa.

Ia juga mendorong agar kebiasaan membaca selama 15 menit sebelum pembelajaran dapat diterapkan secara lebih luas di sekolah-sekolah di Kota Makassar.

“Kebiasaan membaca 15 menit sebelum pembelajaran ini sangat baik kalau bisa diterapkan lebih luas. Kita ingin kebiasaan membaca menjadi bagian dari gerakan bersama di sekolah-sekolah,” ujarnya.

Menurutnya, keterlibatan orang tua dan anak dalam kegiatan literasi juga berkaitan dengan salah satu aspek dalam lima klaster penilaian Kota Layak Anak (KLA).

BACA JUGA :  Oknum BNN Sulsel Diduga 86 Miliaran dengan Bandar Narkoba Asal Bone?

Melinda juga menyampaikan bahwa sektor pendidikan dan literasi memiliki ruang untuk berkontribusi terhadap capaian Kota Makassar dalam penilaian KLA, di tengah berbagai tantangan yang masih dihadapi, seperti keberadaan iklan rokok dan anak jalanan.

Akan Dilakukan Mapping Inovasi Literasi Sekolah

Sebagai tindak lanjut, Hj. Melinda Aksa menyampaikan rencana untuk mempertemukan para penggerak dan inovator literasi dengan Ketua Pokja, PKK, Pokja KLA, serta Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Makassar.

“Kami akan mempertemukan para penggerak dan inovator literasi dengan pihak-pihak terkait untuk melakukan mapping. Kita ingin memetakan berbagai inovasi yang sudah berjalan di sekolah-sekolah,” kata Melinda.

Pertemuan tersebut diarahkan untuk melakukan mapping atau pemetaan berbagai program dan inovasi literasi yang telah berjalan di sekolah-sekolah.

Pemetaan diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai praktik-praktik literasi yang telah berkembang sekaligus membuka ruang kolaborasi agar inovasi yang sudah berjalan dapat saling terhubung.

Menuju Launching Gerakan Literasi Serentak

Selain pemetaan, pembahasan dalam audiensi juga mengarah pada rencana launching gerakan literasi secara serentak di Kota Makassar.

Konsep yang direncanakan menggunakan format hybrid, dengan kegiatan secara langsung di lokasi dan keterhubungan secara daring melalui monitor yang tersedia di masing-masing sekolah.

Rencana pemetaan inovasi dan launching gerakan literasi secara serentak menjadi tindak lanjut dari audiensi tersebut. Berbagai praktik literasi yang telah tumbuh di sekolah diharapkan dapat terhubung dan berkembang sebagai bagian dari gerakan literasi Kota Makassar.

(Atika)